MENENGOK SEJARAH EKONOM PADA MASA KHILAFAH ABBASIYAH I (IBNU MISKAWIH)

Oleh : Lilis Mulyati

Setelah berakhirnya masa kekhalifahan bani ummayah, kepemimpinan kaum muslimin dilanjutkan oleh Bani Abbasiyah. Pergiliran kekuasaan ketangan bani Abbasiyah ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, telah diisyaratkan Rasulallah SAW, yaitu ketika beliau memberitahukan kepada Abbas bin abdul muthalib , pamanya, bahwa khilafah akan berada dibawah kekuasaan anak cucunya.
Kekuasaan khilafah bani abbasiyah berlangsung dalam rentan waktu yang panjang selama 524 tahun, yaitu pada tahun ( 132-656 H/ 750-1258 M).
Pada masa daulah abbasiyah , peradaban islam mencapai masa keemasan dan kejayaannnya. Peradaban islam merupakan peradaban terdepan sehingga mampu menjadi pemimpin peradaban dunia selama beberapa abad. Universitasnya menjadi tempat berkumpul para sarjana yang dating untuk menimba ilmu, baik dari Eropa maupun negri lainnya.
Ketika itu, bahasa Arab menjadi bahasa terdepan di dunia dalam masalah ilmu pengetahuan. Orang-orang yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan harus menguasai bahasa Arab. Menggunakan bahasa arab pada masa itu, merupakan bukti dari tingkat wawasan yang tinggi. Sedangkan para ilmuan pada Daulah bani Abbasiyah adalah sosok terkenal yang karya-karya mereka menjadi referensi utama bagi para ilmuan di Timur dan di Barat, diantaranya ilmuan pada masa itu adalah Ibnu Miskawih.
Nama lengkap Ibnu Miskawih adalah Abu Ali Amad bin Muhammad bin Yakub bin Maskawih. Beliau lahir di Rayy ( Teheran, ibu kota republic Islam Iran swekarang) pada tahun 320 H/932 M. Ibnu Miskawih hidup pada masa pemerintahan Dinasti Buwaihi di Bagdad (320-450 H/93-1062 M) yang sebagian besar pemukanya bermazhab Syiah.
Karya Ibnu Miskawih yang terkenal yaitu Filosofi etik adalah suatu upaya memadukan pandangan Aristoteles tentang subjek yang sama dengan ajaran Islam. Tidaklah mungkin dalam studi yang singkat ini dilaporkan sebagai wawasan yang luas yang beliau sumbangkan. Kita pusatkan saja pada pertukaran dan peranan uang. Beliau mengamati bahwa, “Manusia secara alami adalah makhluk sosial. Mereka tidak bisa hidup tanpa kerjasama. Oleh karena itu, mereka harus membantu satu sama lain. Mereka saling mengambil dan saling member, jadi mereka menuntut konpensasi yang pantas. Jika tukang sepatu memakai jasa tukang cat dan ia memverikan juasanya sendiri, ia akan menjadi ganjaran jika kedua karya itu seimbang. Tetapi tidak ada penghalang karya seseorang lebih baik dari karya lainnya. Dalam hal ini, dinar akan menjadi sustu penilai dan penyeimbang diantara keduanya.”
Ia  Miskawih cukp bijaksana dengan menyadari bahwa mengukur dengan ukuran uang ini tidaklah sempurna. Oleh karena itu, menjadi penting bagi penguasa untuk melakukan intervensi dengan alas an untuk menjamin keadilan antara kedua pihak yang telah melakukan transaksi.
Ibnu miskawih juga juga menguraikan urusan uang dalam makalahnya lain yang subjeknya keadilan. Beliau melihat bahwa emasmenjadi dapat diterima secara universal atau dengan kalimatnya sendiri: “Standar untuk semua jenis pekejaan dan lapangan kerja dan penggantinya untuk kesemuanya” melalui konvensi. Konvensi ini mempunyai alas an dibalik itu, yaitu kualitas hakiki dari suatu logam tertentu: tahan lama, mudah dibawa, tidak dapat dikorup, dikehendaki orang, dan kenyataan orang suka melihatnya.
“Dan bahwa ia yang menukarkan segalanya untuk emas dan disimpannya ditempat mereka, dan menjadi pengganti (substitute) untuk semanya, ia melakukan hal yang baik, karena ia dapat setiap saat diperlukan, apapun yang ia perlukan melalui emas itu.”
Ibnu Miskawih wafat pada usia lanjut di Isfahan pada tanggal 9 Syafar 421 H/16 Febuari 1030 M.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel