11/06/2020
Hanya Daerah Hijau Yang Boleh Belajar Tatap Muka
Jember,kabarejember.com
11 Juni2020 --Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berkoordinasi dengan kementerian lainnya dalam waktu dekat akan mengeluarkan panduan mengenai proses belajar mengajar di era New Normal.
Salah satunya adalah aturan hanya sekolah dan perguruan tinggi di daerah dengan status hijau yang boleh menggelar proses belajar mengajar secara tatap muka. Syaratnya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Informasi ini disampaikan Prof. Aris Junaidi, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud kala menjadi pemateri dalam webinar yang digagas oleh FKIP Universitas Jember bekerjasama dengan Dewan Pakar Keluarga Alumni Universitas Jember (Kauje) hari Kamis (11/6).
“Insyaallah dalam waktu dekat panduannya akan diterbitkan, siang ini tengah dibahas oleh Mas Menteri bersama pejabat eselon satu di Kemendikbud. Salah satunya keputusan hanya sekolah dan perguruan tinggi di daerah dengan status hijau yang boleh menggelar belajar mengajar dengan tatap muka. Namun khusus bagi mahasiswa tingkat akhir yang tengah mengerjakan tugas akhir diberikan kesempatan untuk tetap belajar di kampus mengingat mereka harus melakukan penelitian, perlu akses ke laboratorium atau mencari referensi ke perpustakaan, dan tentunya berkonsultasi dengan pembimbingnya,” jelas Prof. Aris Junaidi. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan tampil sebagai salah satu pembicara dalam webinar dengan tema “Menyiapkan Pendidikan untuk SDM Unggul Era Covid-19 (The New Normal)”.
Keputusan hanya memberikan ijin bagi sekolah dan perguruan tinggi di daerah hijau untuk melakukan tatap muka didukung oleh Iwan Taruna, Rektor Universitas Jember yang turut menjadi pemateri. Iwan Taruna lantas menunjukkan data dimana dari 31.796 mahasiswa aktif Universitas Jember 76 persen diantaranya berasal dari daerah di Jawa Timur yang berstatus merah. Sehingga jika proses belajar mengajar secara tatap muka dilaksanakan di Kampus Tegalboto maka dikhawatirkan kampus akan menjadi episentrum baru penularan Covid-19. “Oleh karena itu kita sangat berhati-hati dalam memutuskan akan membuka kampus atau meneruskan belajar secara daring,” kata Rektor.
Universitas Jember sendiri kini tengah mematangkan dua skenario menghadapi era New Normal. Skenario pertama adalah blended learning dimana kuliah dilakukan dengan tatap muka dan daring dengan asumsi pandemi Covid-19 sudah mereda. “Dalam skenario ini mahasiswa akan berada di kampus selama tiga bulan dan melanjutkan belajar secara daring untuk tiga bulan selanjutnya di rumah masing-masing. Namun jika ternyata pandemi Covid-19 belum mereda, maka mau tidak mau proses belajar mengajar selama satu semester akan dilakukan secara daring. Bagaimana pun juga keselamatan dan kesehatan warga kampus menjadi yang utama,” ungkap Iwan Taruna.
Sementara itu kendala dan peluang menyiapkan SDM di era New Normal menjadi bahasan dalam webinar. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Aris Junaidi, datangnya pandemi Covid-19 mendorong e-education makin terwujud. “Kini tantangannya adalah bagaimana menyiapkan SDM yang mampu adaptif dalam era new normal. Khusus bagi perguruan tinggi bagaimana dalam mencetak lulusan melibatkan proses belajar mengajar yang menitikberatkan pada penggunaan teknologi canggih namun sekaligus berpusat pada manusia yang mengutamakan proses pendidikan dengan cara interaktif, komunikasi dua arah, kolaboratif dan didasari semangat long life learning,” tutur Prof. Aris Junaidi.
Tantangan era new normal juga disampaikan oleh Prof. Dafik, Dekan FKIP Universitas Jember. Menurutnya untuk transfer ilmu pengetahuan dan teknologi mungkin bisa dilakukan secara daring, tetapi kompetensi terkait praktek, sikap dan nilai masih membutuhkan proses pendidikan dengan cara tatap muka. “Contohnya kami di FKIP, setiap tahun bisa mengirimkan seribuan mahasiswa untuk melaksanakan praktek mengajar di sekolah-sekolah, tetapi dengan adanya pandemi Covid-19 maka kegiatan tersebut untuk sementara ditiadakan. Padahal mahasiswa FKIP sebagai calon guru memerlukan praktek mengajar di depan kelas,” ujar pakar Teori Graph ini.
Kendala di lapangan juga diutarakan oleh Achmad Djunaidi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Situbondo yang berpartisipasi dalam webinar. Menurutnya ada kendala yang dihadapi saat belajar daring diterapkan di Situbondo, pertama kendala topografi daerah dimana masih ada wilayah yang tidak terjangkau listrik, apalagi sinyal internet. “Kedua, belum semua guru melek teknologi informasi. Ketiga kondisi wali murid yang latar belakangnya berbeda beda, baik dari sisi ekonomi maupun pendidikan. Oleh karena itu perlu intervensi pemerintah menghadapi kendala di daerah,” katanya.
Perlunya negara hadir di era new normal disambut oleh Ketua Dewan Pakar Kauje, Prof. Siti Zuhro. Pakar politik LIPI ini menyarankan agar koordinasi dan kerjasama antara pemerintah pusat dengan daerah lebih diperkuat. Pasalnya dengan wilayah yang luas, kondisi yang berbeda, maka tidak mungkin menyamaratakan kebijakan penanganan Covid-19 untuk semua daerah di Indonesia. Termasuk dalam mengaplikasikan kebijakan pendidikan. “Harus ada evaluasi bersama antara pemerintah pusat dan daerah setelah tiga bulan penanganan pandemi Covid-19. Saya usul agar penanganan pandemi Covid-19 bermula dari desa dan kelurahan dengan memperhatikan kondisi masing-masing wilayah,” jelas Ketua Dewan Pakar Kauje ini.
Webinar kali ini diikuti oleh 451 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya para pemerhati dan insan pendidikan. Tampil sebagai moderator adalah Ninik Rahayu, anggota Ombudsman Republik Indonesia yang juga alumnus FH Universitas Jember. Sebelumnya dalam sambutannya, Ketua Umum Kauje, M. Sarmuji mengingatkan bahwa pendidikan adalah investasi utama dalam berbangsa dan bernegara, dan menjadi tugas semua pihak untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi semua rakyat Indonesia.
“Oleh karena itu Kauje bertekad untuk terus memberikan sumbang saran dan peran serta aktif dalam memajukan pendidikan Indonesia,” pungkas anggota DPR RI ini. (mia/ iim/ hms)
Capaian Penanganan TB Menurun Akibat Covid 19
Jember,Kabarejember.com
Kamis 11 / 6 / 2020,-Saat menjadi pembicara dalam webinar terkait capaian program tuberkolusis (TB) di Kabupaten Jember,
Bupati Faida menyampaikan,
Pembentukan kelompok dan kader-kader TB (tuberculosis) menjadi kunci sukses penanganan penyakit menular tersebut.
Pembentukan kelompok ini telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jember, untuk melengkapi penanganan melalui puskesmas.
Meski di Jember ada lima puluh Puskesmas, kata bupati, tetapi tanpa kader-kader yang mengetahui detail kondisi lapangan, penanganan TB tidak akan efektif.
Kader TB ini mengetahui betul kondisi di lapangan. Mereka juga menjaga agar pasien TB tetap rutin minum obat agar mencapai kesembuhan.
Untuk itu Pemerintah Kabupaten Jember memberikan apresiasi kepada para kader TB tersebut. “Merekalah kunci sukses penanganan TB di Jember,” ucapnya.
Terkait dengan capaian penanganan TB pada masa pandemic Covid-19, bupati menjelaskan adanya penurunan.
Penurunan capaian itu dinilai cukup signifikan. Untuk program TB CDR atau penemuan pasien TB positif baru, target tiga bulan sekali harus 20 persen. Kenyataannya, akibat imbas pandemi Covid-19 hanya 16 persen.
Begitu pula dengan TB SR, juga mengalami penurunan, meski capaiannya masih bisa dikejar. Ini dilakukan seiring dengan upaya rapid test massal untuk Covid-19.
“Di sela sela melakukan rapid test massal, sambil lalu mendeteksi kondisi pasien TB. Ini menjadi suatu pekerjaan yang sinergi,” pungkasnya. ( Red / tim )
UNEJ Sediakan Kouta UTBK SBMPTN, Hanya 13.680 Peserta
Jember, kabarejember.com
---11 Juni2020, Ayo jangan menunda-nunda waktu lagi, karena kuota terbatas. Pendaftaran Ujian Tulis Berbasi Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 baru berlangsung separuh jalan. ternyata animo peserta yang ingin mengikuti UTBK di Kampus Tegalboto ternyata cukup tinggi.
Oleh karena itu, panitia UTBK Universitas Jember menambah kuota peserta yang semula hanya untuk 10.800 orang peserta menjadi untuk 13.680 orang peserta. Berkaitan dengan hal ini, panitia UTBK Universitas Jember melalui Ka Subag Humas Rokhmad Hidayanto menyarankan, agar calon peserta UTBK SBMPTN yang ingin memilih ujian di Universitas Jember segera menyelesaikan proses pendaftaran UTBK SBMPTN (11/6).
“Dari data pendaftar UTBK SBMPTN hari Kamis, 11 Juni 2020 per jam 12.00 WIB, sudah ada 9.426 peserta yang akan mengikuti UTBK di Kampus Tegalboto. Terdiri dari 6.968 peserta reguler dan 2.458 peserta dengan status calon penerima beasiswa KIP-Kuliah. Dan jumlah pendaftar ini diperkirakan masih akan bertambah mengingat pendaftaran UTBK SBMPTN baru ditutup nanti tanggal 20 Juni 2020. Oleh karena itu kami mengajukan penambahan kuota sebanyak 2.880 kursi kepada LTMPT, sehingga total kuota peserta UTBK SBMPTN di Kampus Tegalboto menjadi 13.680 peserta,” jelas Rokhmad Hidayanto.
Rokhmad Hidayanto mengingatkan para calon peserta UTBK SBMPTN, jumlah kuota peserta sebanyak 13.680 orang adalah jumlah maksimal yang diperbolehkan untuk lokasi UTBK Universitas Jember. Mengingat saat ini ada pemberlakuan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19. “Jika jumlah kuota sebanyak 13.680 orang peserta sudah terpenuhi, maka otomatis sistem akan menutup kesempatan mengikuti UTBK di Kampus Tegalboto, walaupun masa pendaftarannya masih dibuka,” tutur Rokhmad Hidayanto.
Perlu diketahui kebijakan pembatasan peserta UTBK di sebuah lokasi mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh Kemenkes, Kemendikbud dan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) sebagai pelaksana pusat SBMPTN. “Tahun 2019 lalu, peserta UTBK SBMPTN di Universitas Jember mencapai 25.560 orang peserta. Nah, tahun ini kami hanya diperbolehkan membuka kuota separuh dari kapasitas yang ada, yakni 13.680 orang peserta saja,” ungkap Rokhmad Hidayanto lagi.
Dirinya lantas menambahkan, jika kuota peserta UTBK SBMPTN di Universitas Jember sudah terpenuhi, maka para calon peserta disarankan untuk mendaftarkan diri mengikuti UTBK di lokasi terdekat lainnya semisal di Malang dan Surabaya. Itu pun dengan catatan kuota peserta di lokasi UTBK SBMPTN tersebut masih belum terpenuhi. “Bagi calon peserta UTBK SBMPTN yang belum mendaftarkan diri maka segeralah mendaftarkan diri. Sementara bagi yang sudah mendaftarkan diri dan telah mencetak slip pembayaran ke bank, maka segeralah membayar sebab jika Anda belum membayar maka artinya belum mendapatkan kursi di UTBK SBMPTN,” imbuh Rokhmad Hidayanto lagi.
Selain memberlakukan protokol kesehatan dalam bentuk pembatasan peserta, panitia UTBK SBMPTN Universitas Jember juga mengambil langkah pencegahan Covid-19 lainnya, semisal penyediaan fasilitas cuci tangan bagi peserta, pembersihan perangkat komputer setiap kali digunakan dan petugas yang memeriksa suhu tubuh peserta setiap kali UTBK akan dimulai. “Bahkan pengantar pun tidak diperkenankan masuk ke lokasi UTBK. Satu hal lagi, panitia tidak akan mengijinkan peserta UTBK SBMPTN yang suhu tubuhnya melebihi 37,5 celcius. Oleh karena itu kami berharap semua calon peserta UTBK SBMPTN dapat menjaga kesehatan agar fit saat mengikuti UTBK nanti,” pungkas Rokhmad Hidayanto.
Sebagai informasi tambahan, setiap sesi hanya akan diikuti oleh 360 peserta UTBK saja. Ada 18 lokasi UTBK di 11 fakultas/unit kerja. Sehingga dalam setiap lokasi UTBK hanya diisi 20 peserta. Total di UNEJ saat pelaksanaan UTBK besok pada 5-14 Juli 2020 akan ada 38 sesi. Dimana satu hari ada 4 sesi kecuali hari Jumat hanya 2 sesi saja. (mia/iim/hms)
Pemkab Jember Maksimal Penangganan Covid-19
Jember,kabarejember.com
-- Penanganan pandemi Covid-19 membuat Pemerintah harus memeras otak untuk mensiasati dampaknya maupun penyediaan anggaran. Hal ini dialami Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tidak terkecuali Pemerintah Kabupaten Jember. Terbitnya berbagai aturan harus segera diintepretasikan dan diimplementasikan, sedangkan Covid 19 tidak menunggu kesiapan Pemerintah.
Alhasil komunikasi dengan Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat dilakukan oleh Bupati perempuan Pertama di Kabupaten Jember. Tanggal 18 Maret 2020 kedatangan Wagub Emil Dardak tidk disia2kan. Bertempat di Bakorwil V Provinsi Jawa Timur, Bupati menyempatkan untuk meminta arahan dan menyampaikan surat resmi permohonan arahan dari Gubernur untuk implementasi Permendagri 20 Tahun 2020. Namun demikian arahan yang ditunggu tak kunjung didapat. Bupati Jember memahami situasi Pemerintah Provinsi yang juga sedang dalam tekanan mengatasi Covid 19.
Seiring waktu banyak regulasi dikeluarkan oleh pusat pada masa darurat nonalam untuk segera disikapi, diantaranya persoalan Pilkada Serentak. Seperti soal alokasi pengamanan pemilihan kepala daerah tahun 2020 untuk TNI dan Polri.
“Biaya pengamanan pilkada untuk TNI dan Polri disesuaikan dengan kebutuhan,” ujar Bupati Jember, dr. Faida, MMR., Senin, 08 Juni 2020.
Pemerintah Kabupaten Jember telah mengalokasikan biaya pengamanan untuk Polri sebesar Rp. 10,3 miliar dan TNI sebesar Rp. 5,3 miliar.
Seiring dengan munculnya kebijakan pemerintah pusat agar pemerintah daerah melakukan refocusing kegiatan dan realokasi anggaran, biaya pengamanan itu pun ikut dievaluasi.
Itu dilakukan karena ada keputusan DPR RI, KPU dan Bawaslu yang menunda tahapan Pilkada sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Keputusan tersebut membuat anggaran pengamanan dinilai perlu pengalokasian ulang, akibat tidak ada kegiatan yang dilakukan seiring penundaan.
Hasil pengalihan (refocusing) kegiatan dan realokasi anggaran itu kemudian dilaporkan ke Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
“Berkas refocusing itulah yang dievaluasi oleh gubernur,” ungkap bupati.
Di tengah proses sebelum evaluasi gubernur turun, lanjutnya, ada arahan lagi bahwa pilkada akan dilaksanakan antara tahun 2020 dan 2021.
Tahapan seperti itu yang kemudian membuat gubernur mengevaluasi besaran anggaran pengamanan Pilkada yang 0 rupiah.
“Secara prinsip, hasil evaluasi gubernur terkait pilkada sudah dilaksanakan,” tegas perempuan pertama yang menjadi Bupati Jember ini.
Selain memperhatikan evaluasi gubernur, pemerintah daerah juga memperhatikan hasil konsultasi dengan Ditjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri, agar memperhatikan hasil rapat KPU, DPR RI, dan pemerintah pusat yang memutuskan Pilkada kembali digelar pada Desember 2020.
Bupati juga menjelaskan adanya arahan agar pemerintah daerah mempedomani SKB Mendagri dan Menkeu dan PMK 35 2020.
Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan Nomor 119/2813/SJ dan 117/KMK.07/2020 tentang Percepatan Penyesuaian APBD Tahun 2020 dalam Rangka Penanganan Covid-19, serta Pengamanan Daya Beli Masyarakat dan Perekonomian Nasional.
Sementara Peraturan Menteri Keuangan Nomor 35/PMK.07/2020 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa TA 2020 dalam Rangka Penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional.
“Berdasarkan hal tersebut, maka anggaran pengamanan pilkada yang semula di-refocusing akhirnya dikembalikan sesuai plafon awal,” ungkap bupati. (tim/red)
Jumlah Penerima BTT-Buruh Tani di Kecamatan Puger Timpang
Jember, kabarejember.com
-- Sejak hari Selasa (9/06) sebanyak 3.124 paket bantuan bagi buruh tani (BTT-BT) di dua belas desa wilayah Kecamatan Puger dibagikan. Jumlah penerima bantuan antara desa satu dengan lainnya sangat jomplang alias berbanding terbalik.
Beberapa desa memperoleh ratusan bahkan ribuan bantuan, antara lain desa Wonosari 1039 paket, Mlokorejo 860 paket, Kasiyan Timur 714 paket, Bagon 414 paket. Sedangkan delapan desa lainnya menerima bantuan yang sangat minim, antara lain desa Puger Wetan 61 paket, Puger Kulon 9 paket, Mojomulyo 3 paket, Grenden 6 paket, Jambearum 6 paket, Kasiyan 10 paket, Mojosari 1 paket, dan Wringintelu 1 paket.
Selisih jumlah penerima bantuan BTT-BT yang sangat jauh ini membuat beberapa Kepala Desa kebingungan, pasalnya banyak masyarakat yang bekerja sebagai buruh tani mempertanyakan.
Hasil pantauan kabarejember.com, beberapa desa didatangi oleh masyarakat yang bekerja sebagai buruh tani untuk menanyakan bantuan dari Pemkab Jember tersebut. Seorang buruh tani berinitial S, yang tidak bersedia namanya disebut, kepada kabarejember.com mengatakan bahwa dirinya adalah buruh tani yang memang benar-benar tidak memiliki lahan. "Saya memang benar-benar tidak memiliki lahan dan belum pernah menerima bantuan apapun, makanya saya menanyakan ke Kepala Desa mungkin saya mendapat paket bantuan,"katanya.
Di sela-sela kegiatan memantau pembagian BTT-BT di desa Wonosari pada Rabu (10/06), Kepala BPP IX Balung, M. Safi'i kepada kabarejember.com membenarkan adanya perbedaan mencolok jumlah penerima bantuan buruh tani antara desa yang satu dengan lainnya di Kecamatan Puger.
Safi'i menerangkan bahwa BPP IX Balung mempunyai wilayah kerja 3 kecamatan yaitu Rambipuji, Balung, dan Puger. Permasalahan ketimpangan jumlah penerima bantuan hanya terjadi di Puger, permasalahan yang sama juga terjadi di Balung. "Bahkan sampai hari Rabu(10/06) bantuan BTT-BT untuk kecamatan Rambipuji masih belum diterima dari Pemkab Jember,"katanya.
Permasalahan minimnya jumlah penerima BTT-BT di beberapa desa / Kecamatan Puger disebabkan karena Pemdes dan PPL belum mengirimkan data buruh tani. Ada yang mengirimkan data tetapi terlambat, tambahnya.
"Bagi desa yang memperoleh jumlah bantuan sedikit, tidak perlu kuatir karena masih ada tahap/gelombang selanjutnya. Makanya kami meminta secepatnya PPL dan Pemdes mengirimkan data buruh tani, sehingga dapat segera dilakukan verifikasi dan validasi oleh Pemkab Jember pada gelombang selanjutnya," katanya. (heri)
10/06/2020
Bupati Jember Bantu Ribuan Karyawan Korban PHK
Jember,Kabarejember.com
--Pandemi Covid 19 sangatlah dahsyat dampaknya.Karena telah meluluh lantakkan semua sektor. Diantaranya sektor ekonomi ,budaya, pariwisata dan lain lain.Dan Disinilah kepedulian pemerintah sangat dibutuhkan.
Tak terkecuali dengan warga yang terdampak Covid-19, yang terkena PHK dari tempat kerjanya pasti sangat merasakan sekali. Di Jember tercatat ada sejumlah 1002 orang yang terdaftar akibat PHK saat Pandemi Covid-19 mendapat bantuan dari Pemerintah.
Hari ini Rabu 20/6 Bupati dr. Faida MMR sebelum menyalurkan bantuan kepada korban PHK, terlebih dahulu memimpin apel puluhan Satgas Covid-19 di Pendopo.
Puluhan satgas dari Dinaskertran dan pegawai, Sarbumusi, BPBD, Kecamatan Patrang, Kaliwates dan Sumbersari.
Bupati dr. Faida MMR menjelaskan, hari ini kami akan menyalurkan bantuan kepada dampak Covid-19, yakni Karyawan korban PHK yang ada di Jember. Ada sejumlah 1002 orang yang terkena PHK, namun untuk sementara ini hanya 318 yang ada di tiga wilayah Kecamatan kota.
Lebih lanjut Bupati menerangkan, namun ini tak ada kaitan dengan dhuafa , atau keberadaan rumahnya, tapi karena korban PHK , dan ini harus kita bantu , selain itu juga apabila masih ada yang belum terdaftar maka masih bisa dilakukan melalui informasi yang telah tersebar ke publik.
" Kami sangat mengapresiasi Sarbumusi yang juga peduli kepada anggotanya yang telah di PHK , bahkan ini sangat membantu kami pada saat menyalurkan bantuan." Tandas Bupati.
Dia menambahkan, jangan sampai bantuan ini salah sasaran dan pindah tangan, maka laporkan kepada tim satgas Covid-19 agar bisa di selesaikan persoalannya.
Sementara terpisah, Ketua Sarbumusi, Achmad Faruq mengatakan, awalnya kami mengajukan untuk menjadi satgas Covid-19 terkait korban PHK tempat kerjanya , dan Alhamdulillah bisa di terima dan langsung bekerja.
" Kepedulian kami kepada anggota Sarbumusi yang terkena PHK, dan ini sebagai wujud tanggung jawab kami kepada seluruh anggota yang berkaitan dengan para pekerja ." ungkapnya.( Red / tim )
--Pandemi Covid 19 sangatlah dahsyat dampaknya.Karena telah meluluh lantakkan semua sektor. Diantaranya sektor ekonomi ,budaya, pariwisata dan lain lain.Dan Disinilah kepedulian pemerintah sangat dibutuhkan.
Tak terkecuali dengan warga yang terdampak Covid-19, yang terkena PHK dari tempat kerjanya pasti sangat merasakan sekali. Di Jember tercatat ada sejumlah 1002 orang yang terdaftar akibat PHK saat Pandemi Covid-19 mendapat bantuan dari Pemerintah.
Hari ini Rabu 20/6 Bupati dr. Faida MMR sebelum menyalurkan bantuan kepada korban PHK, terlebih dahulu memimpin apel puluhan Satgas Covid-19 di Pendopo.
Puluhan satgas dari Dinaskertran dan pegawai, Sarbumusi, BPBD, Kecamatan Patrang, Kaliwates dan Sumbersari.
Bupati dr. Faida MMR menjelaskan, hari ini kami akan menyalurkan bantuan kepada dampak Covid-19, yakni Karyawan korban PHK yang ada di Jember. Ada sejumlah 1002 orang yang terkena PHK, namun untuk sementara ini hanya 318 yang ada di tiga wilayah Kecamatan kota.
Lebih lanjut Bupati menerangkan, namun ini tak ada kaitan dengan dhuafa , atau keberadaan rumahnya, tapi karena korban PHK , dan ini harus kita bantu , selain itu juga apabila masih ada yang belum terdaftar maka masih bisa dilakukan melalui informasi yang telah tersebar ke publik.
" Kami sangat mengapresiasi Sarbumusi yang juga peduli kepada anggotanya yang telah di PHK , bahkan ini sangat membantu kami pada saat menyalurkan bantuan." Tandas Bupati.
Dia menambahkan, jangan sampai bantuan ini salah sasaran dan pindah tangan, maka laporkan kepada tim satgas Covid-19 agar bisa di selesaikan persoalannya.
Sementara terpisah, Ketua Sarbumusi, Achmad Faruq mengatakan, awalnya kami mengajukan untuk menjadi satgas Covid-19 terkait korban PHK tempat kerjanya , dan Alhamdulillah bisa di terima dan langsung bekerja.
" Kepedulian kami kepada anggota Sarbumusi yang terkena PHK, dan ini sebagai wujud tanggung jawab kami kepada seluruh anggota yang berkaitan dengan para pekerja ." ungkapnya.( Red / tim )
Masyarakat Desa Mayang Terima Pembagian Kartu BPNT
Jember,Kabarejember.com
--Tadi pagi ( 10 / 6 / 2020) sekitar jam 9 pagi warga masyarakat desa Mayang yang terdiri dari 3 dusun,Dusun Krajan,Dusun Klayu dan Dusun Tegalgusi yang namanya sudah tercantum sebagai calon penerima bantuan BPNT ( bantuan pangan non tunai ) berbondong bondong datang ke SDN Mayang 01 untuk mengambil kartu BPNT.
Langgeng Wibawanto SE selaku kepala desa Mayang mengatakan "Alhamdulillah warga kami banyak yang menerima kartu BPNT desa kami menerima 311 kartu sedangkan yang sudah tersalurkan 258,sisa 53 dan 8 orang meninggal.
Kami mendapatkan data tersebut dari dinas sosial kabupaten Jember.jadi kami tinggal mengundang warga yang namanya sudah tercantum.Untuk pembagian dilakukan oleh petugas dari bank mandiri"ujarnya.
Penerima kartu BPNT perluasan tersebut adalah warga masyarakat desa Mayang yang memang belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.Seperti BLT DD,BST ,PKH dan bantuan bantuan lainnya.Bantuan BPNT perluasan ini senilai rp 200.000 per bulan mulai bulan april sampai bulan Desember 2020.Sesuai namanya bantuan tersebut berupa sembako senilai rp 200.000,imbuh Iwan.
Sedangkan untuk pengambilan sembakonya sudah ada beberapa toko yang ditunjuk yang bekerja sama dengan bank Mandiri.Warga masyarakat penerima bantuan BPNT perluasan diwajibkan memakai masker dan diperiksa suhu tubuh oleh petugas serta wajib cuci tangan sebelum masuk ruangan pengambilan kartu.Ini semua dilakukan untuk mencegah penyebaran covid -19," pungkasnya. ( red / tim ).
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Probolinggo - Polres Probolinggo intensif melakukan pengecekan ketersediaan tabung oksigen medis untuk pasien Covid-19, untuk menghindari ad...
-
Merdekanews.net Sosok pocong dan kuntilanak berkeliaran di jalur protokol yang menjadi akses menuju Kota Mojokerto. Kedua sosok hantu itu me...
-
Sidoarjo.merdekanews.net Perhari, resto yang berada di Jalan Raya Komplek Perumahan Taman Pinang Indah, Sidoarjo ini menyediakan 20 porsi ma...






