Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
26/08/2019
Pengusulan Dua Tokoh Jadi Pahlawan Nasional Kembali Diseminarkan
Jember, Kabarejember.com
----Seminar yang dihadiri para santri ponpes dan mahasiswa perguruan tinggi, para veteran, takmir masjid, dan pengurus ormas ini berlangsung di Pendopo Wahyawibawagraha, Minggu, 25 Agustus 2019. Ada dua pembicara dalam seminar tersebut, yaitu Kasbrig 09 Letkol Inf Arif Munawar dan Wakil Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo KH Afifuddin Muhajir.
Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR. dalam sambutannya menjelaskan, proses pengusulan gelar pahlawan bagi KH Achmad Siddiq sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu.
“Sejarah mencatat, beliau adalah tokoh yang menggerakkan masyarakat, santri ponpes, dan tokoh agama sampai bisa menerima Pancasila sebagai asas tunggal melalui ajaran-ajarannya,” terang Bupati.
Catatan sejarah itu kini kembali disosialisasikan. “Agar sejarah perjuangnya menjadi semangat pemersatu dan menjadi satu pemahaman bahwa NKRI harga mati,” ujarnya.
Ajaran-ajarannya itu tentang Pancasila dan Islam yang berjalan beriringan, bukan yang bertentangan. “Inilah yang membuat KH Achmad Siddiq layak menjadi pahlawan nasional,” tegasnya.
Tentang Letkol Moch. Sroedji, Bupati menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Jember sudah mengusulkan sejak tahun 2016 dan telah direspon mendapatkan gelar Mahaputra Utama.
Kini diupayakan pengusulan kembali untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional dengan kelengkapan berkas-berkas dan bukti sejarahnya.
Kisah perjuangannya juga telah disosialisasikan agar lebih luas diketahui masyarakat. Sosialisasi ini melalui film, drama kolosal, seminar dan bedah buku di seluruh kalangan masyarakat Jember dan sekitarnya.
“Karena beliau bukan hanya berjuang di Jember tetapi juga sekitar wilayah Jawa Timur,” terangnya.
Dalam kesempatan itu Bupati menyinggung kehadiran generasi muda dalam seminar menjadi penyemangat dan dukungan untuk pengusulan gelar kepahlawanan ini.
Dengan seminar ini, generasi muda tidak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan informasi lebih luas tentang keteladanan pahlawan-pahlawan.
“Seminar ini menunjukkan bahwa perjuangan di masa lampau bukan dilakukan golongan per golongan, tetapi terbukti dilakukan bersama, seperti yang dilakukan oleh tiga tokoh di Jember KH Achmad Siddiq, Letkol Moch. Sroedji, dan dr. Soebandi,” terangnya.
Kasbrig 09 Letkol Inf Arif Munawar menjelaskan pengusulan gelar pahlawan nasional untuk Letkol Moch. Sroedji, dilihat dari aspek legalitas, sudah 80 persen memenuhi syarat. Pada aspek sosiologis sudah sangat memenuhi syarat.
“Pengorbanannya dan dampaknya tidak hanya di Jawa Timur, bahkan nasional,” katanya.
Tinggal 20 persen aspek legalitas, yang sudah diteliti lebih lanjut oleh tim, dan hanya menunggu keputusan presiden.
Oleh karena itu Arif Munawar mengajak seluruh masyarakat untuk berdo’a agar keberlangsungan pengusulan ini berjalan lancar.
Sementara itu, KH. Afifuddin Muhajir menjelaskan bahwa KH. Achmad Siddiq adalah sosok yang dipilih oleh para ulama-ulama senior untuk menjadi Rois Am NU pada tahun 80-an.
Kiai Afifuddin menerangkan, peran NU paling utama selama ini ada tiga. Yakni NU berperan sebagai benteng akidah ahlusunnah wal jamaah, NU berperan sebagai pengawal moral bangsa Indonesia, dan NU sebagai penyanggah NKRI.
“Pada ketiga peran ini, KH. Achmad Siddiq memiliki andil yang sangat luar biasa melalui ajaran-ajarannya,” ungkapnya.
Usulan gelar pahlawan nasional untuk KH. Achmad Siddiq, menurut Kiai Afifuddin, bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kepentingan meneruskan sejarah.
“Oleh karenanya, pahlawan Jember ini layak jika diresmikan sebagai pahlawan nasional,” tegasnya. (mul/mia/hms)
24/08/2019
Bupati Percepat Usulan Gelar Pahlawan Nasional KH Achmad Shiddiq dan Lekol Sroeji
Jember, Kabarejember.com
----Bupati Jember, dr. Hj. Faida, MMR melakukan upaya percepatan untuk pengusulan gelar 2 pahlawan nasional asal Jember, yakni Lektol Sroedji dan KH. Achmad Shiddiq. Sejumlah tim perumus dipertemukan untuk mengevaluasi sekaligus mengetahui perkembangan yang sudah dicapai oleh masing-masing tim perumus.
Bertempat di Aula Pendopo Wahyawibhawagraha pada Minggu, 25 Agustus 2019 pukul 08.00 WIB.
2 tim perumus yang ada, yakni Tim Task Force Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember untuk tim perumus pengusulan gelar KH. Achmad Shiddiq dan tim perumus dari TP2GP atau Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat.
Koordinasi ini bakal dikemas dengan Seminar Pengusulan Pahlawan Nasional yang sekaligus akan memaparkan seluruh rangkaian perumusan dan presentasi bukti-bukti yang nantinya akan dipergunakan sebagai salah satu persyaratan pengusulan gelar pahlawan nasional.
Meskipun secara riil perjuangan mereka telah diakui oleh masyarakat Jember secara luas, namun hal ini sangat diperlukan untuk persyaratan yang ditetapkan. (mul/mia/hms)
31/05/2019
Pemikiran KH Achmad Siddiq Terkait Hubungan Pancasila dan Agama Berdampak Luar Biasa
Jember, kabarejember.com
Pemikiran KH Achmad Siddiq terkait hubungan Pancasila dan agama berdampak luar biasa hingga saat ini. Pemerintah akan menyosialisasikan pemikiran ini di sejumlah tempat dengan target 100 ribu peserta.
Rencana itu tercetus dalam pertemuan Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR dengan Tim Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember yang membahas usulan KH Achmad Siddiq sebagai pahlawan nasional, Rabu, 29 Mei 2019 di Pendapa Wahyawibawagraha.
Dalam kesempatan itu, bupati menilai KH. Achmad Siddiq adalah seseorang yang mengawal kemerdekaan. Bukan hanya sesudah kemerdekaan, tetapi juga sebelum kemerdekaan. "Beliau juga menggalang Nahdlatul Ulama sehingga menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal di masa itu. Pemikiran-pemikiran beliau ini yang menyambungkan Pancasila dengan agama," kata bupati.
"Semangat ini harus diteruskan kepada generasi muda kita. Apalagi saat ini kondisi bangsa kita rawan masuk paham paham radikalisme," lanjutnya.
Terkait hal itu, dalam rangka persiapan memperingati bulan Pancasila Juni 2019, Pemerintah Kabupaten Jember berencana menggelar sosialisasi pemikiran KH Achmad Siddiq tentang Pancasila dan Islam. "Pancasila dan Islam adalah salah satu hal yang tidak bertentangan," ujarnya.
Kegiatan sosialisasi ini akan ditargetkan mencapai target seratus ribu masyarakat Jember. Untuk mencapai target itu akan ada safari sosialisasi di sejumlah tempat.
Selain itu, Bupati Jember bersama tim dan keluarga KH Achmad Siddiq akan memilih trainer untuk TOT (training of trainers) mengajarkan ajaran KH. Achmad Siddiq kepada guru-guru agama maupun guru PKN di Kabupaten Jember agar diteruskan kepada siswa-siswi dan masyarakat.
Sejarah KH Achmad Siddiq juga akan masuk dalam Museum Diorama Pancasila dan Konstitusi Pemkab Jember. Museum ini bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
"Satu lantai di museum itu akan diisi tentang perjuangan pahlawan Jember, dan sejarah konstitusional, juga sekaligus kegiatan pengusulan gelar Pahlawan KH. Achmad Siddiq, dirangkai dengan persiapan pengisian museum," terangnya.
KH. Mohammad Balya Firjoun Barlaman, yang merupakan putra KH. Achmad Siddiq mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Jember yang telah mengapresiasi perjuangan KH Achmad Siddiq dengan memperjuangkan gelar kepahlawanannya.
"Ini merupakan penghargaan luar biasa bagi keluarga. KH. Achmad Siddiq adalah seseorang yang menghubungkan kedudukan Pancasila sesuai dengan porsinya berkaitan dengan agama," jelas pria yang akrab disapa Gus Firjon ini.
Dengan adanya pemikiran beliau ini (Pancasila) dipahami oleh masyarakat, karena ideologi Pancasila tidak bertentangan dengan agama bahkan sejalan. Sejarah sudah membuktikan Pancasila mampu merekatkan seluruh komponen bangsa dengan berbagai latar belakang bangsa," imbuhnya.
Ia mengatakan, pihak keluarga juga akan membantu sepenuhnya apa yang diperlukan terkait dengan data-data histori termasuk sosialisasi.
Akhmad Taufiq selaku Ketua LP3M UNEJ menjelaskan, pertemuan kali ketiga dengan Bupati Jember Faida ini merupakan sinergitas luar biasa. Langkah maju yang konkret antara pemerintah, tim, dan keluarga KH Achmad Siddiq.
Hari ini tim melengkapi dokumen perjuangan KH Achmad Siddiq yang ditemukan ada dimensi perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada masa tahun 47," jelas pria yang juga Ketua IKA PMII Jember ini.
Pertemuan ini, lanjutnya, menyepakati agar tim merumuskan lebih baik terkait materi persiapan presentasi KH Achmad Siddiq sebagai pahlawan nasional. Akhmad Taufiq juga mengungkapkan skema program Bupati Jember Faida yang akan menindaklanjuti usulan gelar pahlawan nasional dengan sosialisasi pemikiran KH Achmad Siddiq tentang hubungan Pancasila dan agama.
Pengusulan gelar pahlawan KH. Achmad Siddiq tidak hanya sekedar capaian gelar, tetapi pasca pengusulan gelar akan ditindaklanjuti dengan sosialisasi pemikiran strategis beliau, pungkas budayawan ini. (Mia/Mul/ulu/hms)
13/05/2019
Bupati Faida Seriusi Usulan LP3M KH Achmad Siddiq Jadi Pahlawan Nasional
Jember, Kabarejember.com
Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR kembali membahas usulan gelar Pahlawan Nasional untuk KH Achmad Siddiq dengan Tim Task Force Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember yang dipimpin Dr. Akhmad Taufiq, S.S., M.Pd.
Bertempat di Pendapa Wahyawibawagraha, Senin 13 Mei 2019, kali ini bupati menyatakan akan ada pendampingan tata negara dari Pemkab Jember untuk usulan tersebut. Ini disampaikan setelah mendapat penjelasan lampiran usulan tersebut dari tim.
Salah satu anggota tim, M. Haidlor dalam paparannya menjelaskan usulan tersebut dalam konteks kekinian, yakni pasca reformasi dan ideologi Pancasila yang mulai memudar. Juga terkait dengan kondisi sosial mutakhir dengan menguatnya radikalisme yang akan mengancam eksistensi Pancasila kedepan.
Haidlor juga menjelaskan dalam konteks sosial dan politik yang berkembang pada masa penerimaan asas tunggal Pancasila. "Pada waktu itu resistensi terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa mendapat tantangan kuat, terutama dari kalangan umat Islam, dan NU melalui Munas dan Muktamar mengakhiri polemik dengan menerima asas tunggal Pancasila sebagai ideologi bangsa," terangnya.
Dalam Munas NU tahun 1983 dan Muktamar NU tahun 1984, masih jelas Haidlor, KH. Achmad Siddiq memberi solusi dari perdebatan para ulama dengan menerjemahkan Khittah NU yang perlu menerima Pancasila sebagai asas berbangsa dan bernegara.
Inti dari pendapat KH. Achmad Siddiq saat Munas dan Muktamar, NU harus menerima Pancasila sebagai asas berbangsa dan bernegara. Pancasila merupakan perwujudan dari nilai-nilai ajaran Islam, dan Pancasila itu sangat relevan dengan fiqih ahlussunnah waljamaah dan konteks kebangsaan.
Implikasi dari pendapat tersebut yaitu terjadinya perubahan konstelasi sosial politik bangsa. Penerimaan masyarakat luas terhadap nilai dan norma Pancasila, serta ekstensi Pancasila dalam pembangunan bangsa kedepan.
Disampaikan pula dasar hukum pengajuan usulan tersebut. Diantaranya UU no 20 tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan. Perpres no 5 tahun 1964 tentang pemberian penghargaan/tunjangan kepada perintis kebangsaan atau kemerdekaan dan undang-undang lainnya.
Dalam lempiran yang disertakan menunjukkan riwayat pendidikan KH. Achmad Siddiq, yang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Islam di Jember, kemudian pindah ke Madrasah Salafiyah Pesantren Tebuireng Jombang hingga kelas 6.
"Beliau dijuluki kutu buku (kitab), karena memiliki banyak kitab. Dengan gaya bicara yang sangat khas memikat orang ketika berinteraksi, dan menjadi mitra diskusi dalam perumusan konsep-konsep strategi," ujar Haidlor.
Tentang karir dan pengabdian KH. Achmad Siddiq, dijelaskan saat berumur 19 tahun telah menjadi koordinator Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) wilayah Jember, Besuki dan Jawa Timur. Juga pernah menjadi Sekpri KH.Wahid Hasyim pada saat menjadi menteri agama di Zaman Ir. Soekarno, serta pernah menjadi anggota DPR RI.
"Kemudian masih banyak lampiran lampiran pendukung pengusulan gelar kepahlawanan KH. Achmad Siddiq," jelas Haidlor.
Menanggapi paparan tersebut, Bupati Jember Faida menjelaskan langkah Pemerintah Kabupaten Jember untuk mengawal usulan tersebut. "Nanti dalam tim ini ada pendampingan akhir tata negara dari Pemkab yang akan dilibatkan, dan akan ada pengawalan," tutur Bupati.
Bupati juga mengungkapkan rasa senangnya. "Saya puas karena tim menerima tantangan bupati. Yang mau diusulkan ini sudah tiada, sebagai penerus kita harus serius menindaklanjuti," ujarnya. (Mia/Mul/hms)
10/05/2019
Bupati Faida Berkomitmen Kawal Usulan Gelar Pahlawan Nasional KH Achmad Siddiq
Jember, KaJe
Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR menegaskan komitmennya untuk mengawal usulan gelar pahlawan nasional untuk KH Achmad Siddiq.
Hal itu terungkap dalam pertemuannya dengan Tim Task Force Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember.
Pertemuan berlangsung di Tamyaloka Pendapa Wahyawibawagraha, Jum’at, 10 Mei 2019. Tim Task Force LP3M Unej dipimpin Dr. Akhmad Taufiq, S.S., M.Pd.
Dalam kesempatan tersebut, bupati menyampaikan, begitu banyak keteladanan pahlawan yang lahir di Jember. Mulai dari Letkol. M. Sroedji, dr. Soebdandi, dan KH Achmad Siddiq.
“Beliau (KH. Achmad Siddiq) adalah pejuang untuk asas tunggal Pancasila dalam sejarah bangsa," kata bupati.
Pengusulan gelar pahlawan nasional untuk KH Achmad Siddiq telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Proses tersebut telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.
Bupati menyebut, pengusulan tersebut seiring dengan semangat masyarakat yang ingin gelar kepahlawanan untuk KH. Achmad Siddiq.
Kali ini, masih kata bupati, pemerintah akan menindaklanjuti usulan tersebut dalam momen Bulan Pancasila pada Juni mendatang.
Dalam momen tahunan tersebut akan diisi dengan kegiatan untuk mengawal gelar kepahlawanan KH. Achmad Siddiq.
Kegiatan itu nantinya akan melibatkan tim, pihak keluarga, masyarakat, akademisi Universitas Jember, sejarawan, serta Pemkab Jember.
“Kita menyiapkan seminar untuk menggelar sosialisasi kepahlawanan KH. Achmad Siddiq," jelas bupati terkait salah satu kegiatan yang disiapkan pada Bulan Pancasila.
Sosialisasi ini bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada publik dan kajian bersama. Selanjutnya akan dibawa ke pemerintah pusat melalui Gubernur Jawa Timur.
"Ini suatu hal yang luar biasa, bahwa
KH. Achmad Siddiq adalah kyai besar dari Jember, bisa menyatukan ummat dan mengusung asas tunggal dengan menjadi pelopornya. Ini adalah perjuangan orang Jember dari Jember untuk Indonesia," bupati.
Sementara itu, Akhmad Taufiq mengaku tidak menduga dengan respon cepat yang diberikan oleh bupati untuk mengawal pengusulan tersebut.
"Hari ini, kami tidak menduga, betapa apresiasi dan komitmen Bupati Jember untuk mengawal proses pengusulan KH. Achmad Siddiq sebagai pahlawan nasional begitu cepat," katanya.
Akhmad Taufiq mengatakan, Bupati menginginkan pada bulan Juni tim dari Universitas Jember untuk terlibat mengawal proses pengusulan itu.
“Kami tim dari Universitas Jember sangat berbahagia, dan menghargai komitmen bupati untuk mengawal proses ini,” tutur pria asal Lamongan ini. (Mia/Mul/hms)
12/02/2019
Mengenang Sosok Letkol. dr. RM Soebandi
Jember, KaJem
Pemerintah Kabupaten Jember mendukung penuh keluarga besar mendiang Letkol. dr. RM Soebandi untuk mengenang 70 tahun gugurnya pahlawan milik masyarakat Jember ini. Dukungan ini agar masyarakat lebih mengenal pahlawannya. Ada tiga kegiatan yang menjadi rangkaian peringatan. Pertama, doa bersama di Masjid An Nuur di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari, Jum’at 8 Februari 2019.
Doa yang dipimpin Kiai H. Iqbal ini dihadiri undangan dan masyarakat sekitar. Masjid ini menjadi monumen peringatan lokasi tempat pertempuran hingga Letkol Moch. Sroedji sebagai Komandan Brigade Damarwulan Divisi II Suropati gugur bersama Letkol. dr. RM Soebandi, yang ketika itu menjabat sebagai Residen Militer Karesidenan Besuki merangkap perwira kesehatan brigade. Doa dipanjatkan untuk seluruh pahlawan yang gugur bersama kedua tokoh yang memimpin pertempuran di wilayah tersebut. Mereka gugur setelah terjadi serangan penyergapan oleh tentara Belanda tepat ada tanggal 8 Ferbruari 1949, 70 tahun silam. Saat itu, pasukan Brigade Damarwulan Divisi II Surapati tengah beristirahat di rumah warga Desa Karang Kedawung.
Mereka beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang selama dua bulan. Perjalanan ini dikenal dengan wingate action, untuk merebut kembali Jember dari penjajah Belanda. Perjalanan itu dari Kediri – Blitar – Malang – Lumajang hingga ke Jember. Para pejuang bertemu di Desa Socapangepok, Lereng Gunung Argopura. Kegiatan kedua berupa peluncuran buku biografi berjudul “Letkol. dr. RM. Soebandi, Jejak Kepahlawanan Dokter Pejuang.” Buku ini ditulis dua jurnalis, Gandhi Wasono M dan Priyo Suwarno. Keluarga besar Letkol. dr. RM. Soebandi bersama Pemerintah Kabupaten Jember mencetak buku ini sebanyak 2.000 eksemplar, dan dibagikan ke perpustakaan umum, militer, kedokteran, maupun lembaga pendidikan.
Serta para guru sejarah di Jember. Buku ini terbit atas gagasan dr. Widorini, MARS., putri pasangan Letkol. dr. RM Soebandi dan Rr Soekesi, yang mendapat dukungan penuh dari kakaknya, Widyastuti. Peluncuran perdana buku yang menceritakan kisah kecil Letkol. dr. RM Soebandi hingga gugur di medan pertempuran ini oleh Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR di Cempaka Hill Hotel, Sabtu 9 Februari 2019. Buku biografi ini diharapkan bisa menjadi inspirasi generasi mendatang.
“Nama dr. Soebandi sudah tidak asing di telinga masyarakat Jember. Tetapi buku catatan tentang sejarah hidupnya sangat sedikit sekali. Karena itu, dengan terbitnya biografi ini saya mengharap seluruh guru dan pendidik, sejarawan, dan warga Jember semakin mengenal pahlawannya,” kata Bupati Faida ketika menerima kehadiran dr. Widorini. Dalam buku biografi setebal 304 halaman itu juga diceritakan penemuan jasad Letkol. dr. RM Soebandi oleh teman sejawatnya, dr. Sugeng, setahun setelah pertempuran yang membuatnya tertembak. dr Sugeng berhasil mengidentifikasi jasad Soebandi dari peralatan suntik di kantong jaket yang masih utuh, serta sebuah arloji yang masih melekat di pergelangan tangan.
Sosok Soebandi merupakan seorang tentara yang bertempur di medan sekaligus menjadi dokter yang mengobati pasukan yang cedera. Jasa besarnya tersebut diabadikan Menteri Kesehatan Prof. Dr. GA. Siwabessy pada tahun 1974 untuk nama RSD Jember. Namanya juga sebagai nama jalan, serta nama sekolah tinggi ilmu kesehatan di Jember. Kegiatan ketiga berupa simposium kedokteran pada Minggu 10 Februari 2019. Kegiatan ini kerjasama keluarga besar mendiang Letkol. dr. RM Soebandi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jember, Universitas Jember (UJ), dan Rumah Sakit Daerah (RSD) dr. Soebandi Jember.
Simposium mengangkat tema Tribute Lecture to Dr. Soebandi ini dilaksanakan di aula Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember. Lima narasumber dihadirkan dalam forum ini, diantaranya Prof. Dr. Dr. Soenaryo Hardjowiyoto, Sp.B, Sp.U-(K), dr. Ali Shodikin, Sp.A., dr. Ratna Dwi P, Sp.P, dr. Dandy Hari H, Sp.JP.,dr. Sugeng Budi R, Sp.PD. (ags/Mia/hms)
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Probolinggo - Polres Probolinggo intensif melakukan pengecekan ketersediaan tabung oksigen medis untuk pasien Covid-19, untuk menghindari ad...
-
Merdekanews.net Sosok pocong dan kuntilanak berkeliaran di jalur protokol yang menjadi akses menuju Kota Mojokerto. Kedua sosok hantu itu me...
-
Sidoarjo.merdekanews.net Perhari, resto yang berada di Jalan Raya Komplek Perumahan Taman Pinang Indah, Sidoarjo ini menyediakan 20 porsi ma...







