07/06/2020

Gastrodiplomasi, Bentuk Diplomasi Yang Out of Box




Jember, kabarejember.com
--Gastrodiplomasi, diplomasi melalui makanan atau tata boga diyakini menjadi salah satu bentuk diplomasi khususnya soft diplomacy yang efektif dalam menjalin hubungan baik antar negara. Pernyataan ini disampaikan oleh Tantowi Yahya, Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Samoa, dan Tonga dalam webinar bertema “Gastrodiplomasi:Membangun Citra Bangsa Melalui Promosi Kuliner” yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember bekerjasama dengan Keluarga Alumni Universitas Jember (Kauje) hari Sabtu (6/6). Bahkan menurut Tantowi Yahya, gastrodiplomasi adalah bentuk diplomasi yang out of box.
Pria yang juga dikenal dulunya sebagai presenter ini lantas menceritakan kegiatan gastrodiplomasi yang digelar oleh KBRI di Selandia Baru. “Kami pernah menggelar festival makanan Indonesia di Samoa, salah satu negara di kawasan samudera Pasifik yang menjadi salah satu wilayah kerja kami. Festival menampilkan makanan khas Indonesia seperti gethuk lindri, lupis hingga gudeg. Sengaja kami menampilkan makanan yang bahan bakunya ada di Samoa. Ternyata sambutan pemerintah dan masyarakat Samoa sangat positif, salah satunya karena umumnya masyarakat Samoa dan negara di kawasan samudera Pasifik sudah tak asing lagi dengan bahan makanan yang kita sajikan seperti singkong, talas adan sayur mayurnya. Kegiatan ini memberikan pengalaman baru bagi mereka,” tutur Tantowi Yahya.
Samoa dan negara-negara di kawasan samudera Pasifik menjadi perhatian KBRI di Selandia Baru mengingat beberapa kelompok dan organisasi di sana mendukung keberadaan Organisasi Papua Merdeka. “Bagi saya dalam menjalankan diplomasi, jika sudah mendapatkan penerimaan yang baik maka itu artinya lima puluh persen tugas kita sudah terpenuhi, tinggal bagaimana kemudian menyampaikan pesan-pesan kita selanjutnya. Dalam kasus negara-negara di samudera Pasifik, bagaimana mereka mengakui integritas NKRI termasuk Papua sebagai bagian integralnya. Melalui gastrodiplomasi pemahaman ini dibangun, ibaratnya melalui lidah yang kemudian turun ke hati. Gastrodiplomasi sama efektifnya seperti bentuk soft diplomacy lainnya seperti science diplomacy dan help diplomacy,” ungkap Tantowi Yahya.
Duta besar yang piawai bernyanyi ini lantas memberika contoh bentuk gastrodiplomasi lainnya. “Kami mengundang korps diplomat, pengusaha, akademisi dan tokoh di Wellington. Kami sajikan makanan khas Indonesia seperti sup buntut sebagai makanan utamanya. Bahannya dari sapi Selandia Baru yang kualitasnya sudah tidak diragukan lagi, tapi bahan lainnya dan cara pengolahan tetap ala Indonesia. Ternyata banyak yang suka, mereka tidak mengira jika buntut sapi Selandia Baru ternyata dapat diolah menjadi masakan yang nikmat. Sebab umumnya warga Selandia Baru jarang mengkonsumsi buntut sapi,” kata Tantowi Yahya yang tak asing dengan bidang gastronomi karena lulusan sebuah sekolah tinggi perhotelan ini.

Selain rutin menggelar acara festival makanan Indonesia, KBRI di Selandia baru juga melakukan promosi makanan Indonesia termasuk gencar memperkenalkan kopi Indonesia, dan mendorong diaspora Indonesia di Selandia Baru untuk membuka usaha restoran Indonesia.

 “Menurut saya ada empat keuntungan melaksanakan gastrodilomasi, yakni meningkatkan kesadaran akan Indonesia melalui makanan. Membuka lapangan kerja baru misalnya usaha restoran Indonesia atau usaha ekspor bahan makanan khas Indonesia.
 Meningkatkan angka kunjungan turis ke Indonesia, dan alat diplomasi yang out of box,” kata Tantowi Yahya. 

Pembicara kedua adalah Agus Trihartono, dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember. Menurutnya Indonesia harus memanfaatkan gastrodiplomasi mengingat Indonesia banyak memiliki potensi makanan khas, yang layak ditampilkan di tingkat internasional. Agus Trihartono menjelaskan ada dua bentuk gastrodiplomasi, pertama high culture food seperti yang sudah dilakukan oleh KBRI yang mewakili negara Indonesia dan sarat akan identitas nasional. 

Klow culture food, yang umumnya dilakukan oleh aktor non negara, yang lebih banyak memperkenalkan aneka ragam makanan khas suatu negara sebagai sebuah pengetahuan dan pengalaman baru.

“Gastrodiplomasi patut dikembangkan sebagai bagian dari soft diplomacy karena tidak sekedar menampilkan makanan saja, tapi ada identitas budaya di baliknya yang menarik bagi masyarakat internasional,” jelas Agus Trihartono.

Oleh karena itu, peneliti gastrodiplomasi ini menganjurkan agar pemerintah Indonesia memadukan peran aktor negara dan aktor non negara dalam menjalankan gastrodiplomasi Indonesia. Aktor negara diperankan oleh Kemenlu, Kemenpar dan lembaga pemerintah lainnya, sementara aktor non negara diantaranya adalah pengusaha dan potensi 7,8 juta orang diaspora Indonesia di seluruh dunia. “Tantangan dan peluang gastrodiplomasi kita adalah memiliki banyak jenis makanan, misalnya saja ada 64 macam soto dari soto Bandung hingga Coto Makkasar, tetapi juga menjadi tantangan sebab kita lantas akan fokus pada makanan apa? Kedua harus ada identifikasi, menjaga dan merawat makanan Indonesia sebab ada makanan kita yang mulai diaku oleh negara lain. Ketiga harus memperkuat kerjasama antar lembaga dan aktor non negara dalam mengembangkan gastrodiplomasi Indonesia,” imbuh Agus Trihartono.
Webinar juga menampilkan pembicara Rendra Wirawan, pelaku usaha UMKM makanan khas Jember dengan dimoderatori oleh Eko Wahyu Tawantoro, jurnalis Kompas TV. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Iwan Taruna, Rektor Universitas Jember, yang dalam sambutannya mendukung Universitas Jember sebagai pusat kajian gastrodiplomasi di Indonesia, mengingat kajian ini belum banyak dikembangkan. Sementara itu dalam penjelasannya, M. Sarmuji, Ketua Umum Kauje, berharap webinar dengan tema gastrodiplomasi akan memperkokoh posisi Universitas Jember sebagai perguruan tinggi yang memberikan perhatian pada pengembangan pangan. “Webinar akan dilaksanakan secara berkesinambungan dengan tema-tema menarik lainnya,” pungkas M. Sarmuji. (mia/iim/hms).

Pemkab Jember Siapkan Rapid Test Bagi Santri


Jember,Kabarejember.com
--Berbagai upaya Pemerintah Kabupaten Jember dilakukan untuk mencegah munculnya klaster baru Covid-19 salah satunya di pondok pesantren dan
menjamin kesehatan dan keselamatan para santri yang akan kembali menimba ilmu di pondok pesantren  dengan melaksanakan rapid test.

Lingkungan pondok untuk menuntut ilmu pun diharapkan aman bagi mereka dengan menerapkan protokol kesehatan yang telah disusun oleh pemerintah.

Menurut Wakil Bupati Jember, Drs. KH. A. Muqit Arief,
Pondok pesantren, adalah sebuah tempat komunitas yang berkumpul selama 24 jam.

“Apabila kesehatan santri tidak disiapkan, maka saat kembali ke pondok pesantren dengan keadaan tidak benar-benar sehat, tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi,” ujarnya. (5/6/2020)

Wabup sangat mengharapkan pengasuh pondok pesantren, pengurusnya, dan para santri untuk bisa mengikuti prosedur kesehatan yang berlaku.

 “Bukan untuk kepentingan Pemkab, tetapi kepentingan mereka,” ujar wabup.

Terkait rencana rapid test untuk santri, wabup menyatakan pemeriksaan itu harus dilaksanakan di luar pondok. Ini supaya santri yang kembali ke pondok betul-betul sudah dalam kondisi sehat dan tidak menjadi klaster baru.

Santri baru maupun santri lama harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Begitu pula dengan orangtua yang mengantar santri baru, mereka tidak diperkenankan masuk ke dalam pondok.  Santri baru itupun harus ditempatkan di tempat khusus.

“Maka, prosedur kesehatan harus ketat dan dikontrol secara berkelanjutan oleh pihak pondok pesantren,” tandas wabup usai rapat koordinasi secara virtual untuk persiapan rapid test bagi santri.

Rapid test akan dilakukan sesuai permintaan pihak pesantren, dengan mengumpulkan data santri secara lengkap sehingga rapid test dapat tepat sasaran.

" Data santri dapat dilaporkan pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Jember, baik santri dari dalam kabupaten maupun dari luar Kabupaten Jember," pungkasnya. ( Red / tim )

06/06/2020

Layanan Mudah Dispendukcapil Dimasa Pandemi Corona


Jember,Kabarejember.com
–Dispendukcapil ( Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil ) selalu memberikan kemudahan bagi warga yang mengurus dokumen administrasi kependudukannya.

Bahkan di masa pandemi Covid-19 ini memberikan layanan prima melalui sistem daring, mulai dari aplikasi pesan whatsapp, media sosial, hingga website.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Gatot Triyono menjelaskan, ada banyak nomor untuk layanan tersebut.

“Dispendukcapil menyediakan beberapa nomor WA, yang disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kepada masyarakat,” terang Gatot, Jum’at, 05 Juni 2020.

Pelayanan KTP dan KIA melalui nomor 0811 3118 1185. Untuk pengurusan KK dan surat pindah di nomor 0811 3118 1184. Memerlukan akta kelahiran melalui nomor 0811 3118 1180.

Jika perlu legalilsir dokumen adminduk, warga bisa ke nomor 0811 3118 1187.

Tidak sebatas pelayanan kebutuhan. Dispendukapil juga menyediakan nomor jika warga memiliki masalah data. Nomornya yaitu 0811 3118 1182.

Layanan berbasis website juga disediakan, yakni dengan mengunjungi website layanan di alamat https://sipdispendukcapiljember.id

Kondisi masyarakat yang beragam membuat Dispendukcapil membuka layanan semi manual, yakni melalui kantor kecamatan setempat.

Pemohon adminduk yang tidak memiliki ponsel android bisa mengajukan permohonannya melalui kantor kecamatan setempat.

Pemohon akan dilayani petugas kecamatan yang mengajukan permohonan adminduk melalui jaringan online Lahbako.

Bagaimana dengan layanan di kantor Dispendukcapil di Jalan Jawa?

Gatot menerangkan, layanan di kantor dikhususkan untuk perekaman KTP-el serta layanan legalisir.

Pelayanan tatap muka di kantor Dispendukcapil ini menerapkan protokol kesehatan. Pemohon dan petugas wajib menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, maupun menjaga jarak satu meter saat mengantri.



Petugas pun wajib melakukan pengecekan suhu badan pada pemohon yang datang. Sementara petugas perekam wajib menggunakan alat pelindung diri lengkap.

Jika sudah mengajukan permohonan adminduk melalui sarana yang ada, pemohon bisa mengetahui hasilnya melalui media sosial.

Apa saja sosmednya? Warga bisa berteman di sosmed Dispendukcapil agar selalu terhubung dengan layanan.

Di facebook dengan akun dispendukcapiljember. Di Twitter dengan akun DisdukcapilJember. Sedang di Instagram dengan akun DispendukcapilJember.



Pengumuman pencetakan juga melalui website resmi yang dimiiki Pemkab Jember. Diantaranya website Pemkab Jember di http://www.jemberkab.go.id. Website Diskominfo di https://www.kominfo.go.id/. Dan website Dispendukcapil di http://dispendukcapil.jemberkab.go.id.

Jika sudah mengetahui dokumen tercetak, lalu bagaimana? Nah, ini yang paling ditunggu. “Petugas Pendopo Express yang mendistribusikannya,” terang Gatot.

Dokumen adminduk yang tercetak didistribusikan oleh petugas pendopo express ke rumah masing-masing sesuai jadwal.

Saat menerima dokumen baru, penerima dokumen wajib mengembalikan dokumen lama, baik KTP atau kartu keluarga ke Dispendukcapil melalui petugas pendopo express yang datang ,enak kan ?.9 (tim/Red)

Bupati dan wakil Bupati Jember Ikuti Rapat Persiapan Pilkada 2020


Jember,Kabarejember.com
---Jelang Pelaksanaan pesta demokrasi pilkada serentak 2020, persiapan segala sesuatunya mulai dilakukan, terkait hal tersebut
Bupati Jember, dr. Faida, MMR., bersama Wakil Bupati Jember, Drs. KH. A. Muqit Arief, mengikuti rapat secara daring dengan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian 5/6/2020.
Pilkada serentak tahun 2020 yang akan dilaksanakan 9 Desember nanti.

Usai rapat, Wabup menyampaikan bahwa rapat diisi dengan saran dan usulan dari berbagai kepala daerah.


Saran itu diantaranya mempersingkat masa kampanye pada saat situasi pandemi. Masa kampanye yang 71 hari diminta dipersingkat untuk mengurangi potensi kerawanan.


“Maka, masa kampanye tetap dilaksanakan sesuai dengan apa yang sudah diusulkan dan sudah tinggal menunggu pengesahan dari Menkumham,” ujarnya.

Untuk tahun pilkada tahun ini tentunya ada penambahan lainnya dikarenakan situasi pandemi Covid-19 pastinya alat yang dibutuhkan berbeda.

Misalnya, perlu penambahan TPS, alat kesehatan, alat cuci tangan, dan sebagainya

“Maka, hal seperti ini akan ditangani oleh satgas. Kemungkinan satgas akan memenuhi kebutuhan yang semacam itu,” jelasnya.

Namun, pemenuhan itu belum final. Sebab, bisa saja KPU melakukan efesiensi. Seperti bimtek tidak dilaksanakan, maupun mempersingkat sosialisasi.

“Dengan efisiensi dana itu, bisa digunakan untuk memenuhi alat kesehatan. Tergantung nanti perbincangan antara Pemkab dengan KPU,” pungkasnya..( tim/red )

05/06/2020

UTBK SBMPTN di UNEJ Ikuti Protokol Kesehatan


Jember,kabarejember.com
--Universitas Jember bersiap menggelar Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam rangka Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah menggelar UTBK sesuai protokol kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19. Kesiapan tersebut diantaranya dengan pemberlakuan aturan setiap lokasi UTBK hanya diisi peserta separuh dari kapasitas asal, penyediaan fasilitas cuci tangan bagi peserta, pembersihan perangkat komputer setiap kali digunakan dan petugas yang memeriksa suhu tubuh peserta setiap kali UTBK akan dimulai. Persiapan UTBK di Universitas Jember ini disampaikan oleh Iwan Taruna, Rektor Universitas Jember (5/6).
Menurut Iwan Taruna, Universitas Jember sudah mempersiapkan diri sebagai pusat UTBK SBMPTN sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. “Nantinya di setiap sesi UTBK kami hanya menampung 360 peserta yang disebar di delapan belas ruang UTBK di sebelas lokasi. Jadi disetiap lokasi UTBK di setiap sesinya hanya akan ada dua puluh peserta saja. Lokasi UTBK diantaranya di Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Kedokteran Gigi dan lokasi lainnya. Total selama pelaksanaan UTBK dari tanggal 5 hingga 12 Juli 2020, ada 30 sesi, yang artinya UTBK SBMPTN di Universitas Jember maksimal diikuti oleh 10.800 peserta UTBK,” jelas Rektor.
Kapasitas peserta UTBK di Kampus Tegalboto ini jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 25.560 peserta.
Kesiapan menggelar UTBK di Kampus Tegalboto juga ditunjukkan dengan penempatan fasilitas cuci tangan, penyemprotan disinfektan untuk ruangan dan perangkat komputer setiap kali usai pelaksanaan UTBK, penempatan tenaga kesehatan yang memeriksa peserta, hingga pemakaian face shield bagi pengawas dan panitia UTBK. “Kami juga berkoordinasi dengan setiap gugus tugas penanganan Covid-19 dan kepolisian di beberapa daerah yang menjadi asal calon peserta UTBK SBMPTN agar memberikan kesempatan bagi calon peserta untuk menuju ke Jember dan balik ke daerah asalnya, mengingat peserta UTBK umumnya tidak hanya dari Jember saja. Kami juga mewajibkan peserta UTBK menggunakan masker saat mengikuti UTBK dan mengikuti protokol kesehatan yang sudah ada,” tegas Iwan Taruna.
Sementara itu dari data tanggal 5 Juni 2020 jam 14.00 WIB, sudah ada 5.265 peserta yang akan mengikuti UTBK di Universitas Jember. Jumlah peserta tersebut terdiri dari 3.736 peserta reguler dan 1.529 peserta dengan status calon penerima beasiswa KIP-Kuliah. “Bagi peserta UTBK SBMPTN, mohon agar melihat terlebih dahulu kesesuaian antara jurusan saat sekolah dengan syarat yang ditentukan oleh program studi yang dipilih. Mengingat tahun ini UTBK hanya mengujikan Tes Potensi Skolastik saja. Bagi peserta UTBK SBMPTN yang ingin berkonsultasi, dapat mengunjungi Pusat Informasi SBMPTN di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa pada tiap jam kerja,” imbuh Rokhmad Hidayanto, Kasubag Humas Universitas Jember. Untuk diketahui, pendaftaran UTBK SBMPTN akan berakhir pada 20 Juni 2020 nanti. (mia/iim/hms)

Dampak Pandemi Covid-19, Banyak Warga Terlilit Hutang


Jember, kabarejember.com
- Saat ini, ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia,  kondisi perekonomian kian sulit. Dampak ekonomi dirasakan semua pihak, mulai pejabat, pengusaha, buruh, petani, nelayan, pedagang, sampai masyarakat miskin. Untuk mengatasi kesulitan ekonomi lantaran penghasilan berkurang, masyarakat banyak yang meminjam uang kepada lembaga perbankan, BPR atau koperasi.

Salah satu elemen masyarakat yang memanfaatkan jasa keuangan adalah penjual nasi / warung kaki lima. Harapannya dengan bermodalkan uang pinjaman tersebut  ekonomi akan membaik. Tetapi kenyataannya penghasilan semakin berkurang.

Ironisnya lagi  dalam situasi yang sulit,  petugas penagihan semakin mengganas, seakan tutup mata dengan kesulitan ekonomi para penjual nasi. Tingkah laku collector yang arogan cenderung kasar, mengeluarkan kata bernada ancaman dan intimidasi membuat resah dan takut para penjual nasi. Petugas penagih tidak mau tahu dengan kondisi ekonomi yang terdampak covid-19, yang penting para pedagang harus membayar angsuran/cicilan.

Seorang penjual nasi, Mg,(55) yang warungnya  berada di kuburan Cina Gebang Jember,  merasa ketakutan dengan  petugas mindring yang datang menagih utang di kondisi ekonomi yang sulit karena dampak pandemi covid-19.

Mg meminjam uang ke salah satu koperasi sebesar 1,5 juta rupiah, sedangkan uang yang diterima 1,2 juta rupiah dipotong administrasi. Angsuran dibayar sebanyak 10 X sejumlah 195 ribu perminggu.
"Buat makan sehari-hari saja masih kesulitan, apalagi untuk membayar angsuran 195 rb. Saya takut dan bingung harus mengadu ke mana?."ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Bu Yl, pemilik warung di jalan Brantas Jember. Dirinya terpaksa meminjam uang lantaran warung miliknya kini sepi pembeli. Penghasilan Yl semenjak masa pandemi merosot. "Cara penagih utang meminta uang angsuran sangat meresahkan. Mau ke mana lagi mencari jalan keluarnya."katanya melas.

Mengamati fenomena kinerja penagih hutang yang kurang simpatik sehingga membuat masyarakat merasa takut dan resah. Anggota LSM Gencar, Heri S berkomentar, di masa pandemi Covid-19 ini seharusnya pihak perbankan, koperasi atau lembaga keuangan lain memberikan kelonggaran pembayaran angsuran bagi nasabahnya. Seperti yang diketahui,  presiden Jokowi sudah menghimbau penundaan pembayaran kredit , untuk meringankan beban masyarakat terdampak pandemi covid-19.

Menurut Heri, seharusnya pemkab Jember segera mengambil langkah, dengan membuat aturan atau melakukan tindakan untuk melindungi penduduknya dari para penagih hutang. "Kami berharap Bupati Jember segera melakukan penertiban atau mengambil tindakan tegas terhadap lembaga keuangan (koperasi) yang ngotot menagih hutang di tengah situasi pandemi covid-19, sehingga masyarakat tidak merasa resah," katanya. (Mel/her)

04/06/2020

Bupati Faida Hadiri Acara Buka Giling Di PG Semboro


Jember,Kabarejember.com
--Sudah menjadi tradisi turun temurun sejak berdirinya Pabrik Gula Semboro Kabupaten Jember, setiap mengawali produksi, pihak pabrik serta masyarakat setempat menggelar acara buka giling atau masyarakat menyebutnya  Royalan.Kamis (4/6)

Tradisi royalan adalah semacam pesta rakyat yang dirayakan dengan pesta yang sangat meriah sebagai pertanda bahwa produksi gula telah dimulai dan berharap hasil panen akan melimpah.

Namun semua sadar, dimasa pandemi Covid-19  seperti saat ini kegiatan tersebut tidak mungkin bisa dipaksakan.Kegiatan Royalan yang berlangsung sejak jaman kolonial Belanda, kini terpaksa dirayakan secara sederhana dengan ritual potong tumpeng  dan gelar doa bersama.

Berlangsung di Pendopo Haji Arum Sabil Tanggul pada Rabu malam (3/6), acara buka giling hanya di hadiri oleh pihak manajemen pabrik dan tokoh masyarakat yang terwakili.Tampak hadir pula Kepala Kejaksaan Negeri Jember Dr. Prima Idwan Mariza, S.H., M. Hum dan para tokoh gula dan tebu di Jember.


Bupati Jember dr.Hj.Faida MMR yang juga hadir di acara tersebut, berkesempatan membuka acara buka giling yang ditandai potong tumpeng bersama manager PG Semboro.

Bupati yang juga ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jember  dalam sambutannya mengucapkan selamat dan sukses atas dimulainya proses giling PG Semboro.

Bupati Faida menegaskan, sebagai kepala daerah dirinya tidak ada kepentingan lain, selain bagaimana gula di jember bisa terpenuhi bahkan bisa mensuplai kota- kota lain.Selain itu bagaimana kinerja PG Semboro ini bisa maksimal dan efektif.

"Kalau sebagai kepala daerah tidak ada cita-cita lain kecuali bagaimana PG Semboro ini bisa memberikan lapangan pekerjaan buat masyarakat jember, "

Selama ini  kapasitas mesin produksi PG Semboro belum dimanfaatkan dengan maksimal, oleh karenanya, dia meyakini jika dikelola dengan lebih serius masih bisa dimaksimalkan.


Sambil proses giling, Bupati mengajak, agar memanfaatkan  lahan-lahan yang masih memungkinkan untuk dikerja samakan.Kepada PG semboro untuk menjalin kerjasama pemanfaatan lahan dengan Pemkab Jember maupun masyarakat.Menurutnya, masih banyak lahan yang kosong yang perlu dimanfaatkan.

"Mari kita cari mana yang bisa kerjakan bersama-sama agar masyarakat bisa kerja, pabrik bisa digunakan maksimal saya yakin semua bisa teratasi, "

Bupati juga menyinggung sebuah tulisan di media beberapa waktu yang lalu, jika Bupati diam-diam melakukan kerja sama dengan PTPN.

"Saya kira tidak ada yang perlu disembunyikan dan tidak ada yang perlu diam-diam, "



"Tidak ada yang diam-diam, dan tidak ada yang sembunyi, kerja sama ini adalah kerjasama yang memang diperlukan dan harus kita lakukan, tentu saja dengan pengawalan kajari kerjasama ini dalam pantauan dan lindungan hukum, "

Tidak ada kepentingan lain bagaimana proses giling ini selamat, lancar, gilingnya sukses dan tidak ada yang tertular covid. Saya senang PG semboro tetap mengambil sikap tetap produksi dan melakukan physical dhystancing dan protokol covid dengan ketat.

"Sekiranya ada kesulitan dalam melaksanakan protokol covid ditengah proses produksi saya siap dihubungi sewaktu-waktu, kerja sama pemkab jember kami akan mensuport PG semboro untuk dapat tetep berproduksi dalam situasi covid,"

Sementara Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia H.Arum Sabil, dalam sambutannya menyampaikan, biasanya pada tahun-tahun sebelumnya acara buka giling dihadiri oleh karyawan, petani tebu dan seluruh masyarakat, bahkan jumlahnya bisa puluhan ribu orang berkumpul jadi satu dalam pesta rakyat Royalan.

Tradisi yang turun menurun itu, sambung Arum, rupanya hanya berlangsung sampai pada tahun 2019.Dengan adanya wabah covid-19, pada tahun 2020 nampaknya tidak memungkinkan digelar secara kolosal seperti biasanya.Walaupun itu sebuah tradisi turun temurun, dengan musibah covid-19 ini mungkin ada hikmahnya juga.


"Hari ini kita berkumpul bersama, besok sore giling dimulai.Tentunya pabriknya untung, masyarakat juga mendapatkan manfaat dari keberadaan PG Semboro,. ( Red / tim )