LUMAJANG ,Merdekanews.id Tim gabungan bergerak cepat melakukan pemantauan dan penyekatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Blok Bantengan, Resort Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Langkah mitigasi ketat ini diambil sebagai upaya pencegahan agar kobaran api tidak menyeberang dan meluas masuk ke wilayah administratif Kabupaten Lumajang.
Peristiwa karhutla itu sendiri pertama kali terdeteksi sejak Senin (3/8/2026) malam sekira pukul 21.30 WIB. Berdasarkan data per per Selasa siang, luas area yang terdampak kobaran api diperkirakan telah mencapai sekitar 14 hektar.
Sejak siang, anggota Polsek Senduro bersama Koramil Senduro, Balai Besar TNBTS, BPBD, serta komunitas peduli api seperti Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Mitra Polhut (MMP), dan para pegiat alam melakukan pemantauan intensif di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pantauan di lapangan menunjukkan, petugas menyusuri jalur perbukitan untuk memetakan arah pergerakan api.
Di sejumlah titik, tim gabungan membuat sekat bakar sebagai upaya memutus rambatan api yang berpotensi meluas akibat vegetasi kering dan embusan angin.
Selain itu, proses pemadaman juga dilakukan menggunakan mobil pemadam kebakaran milik Balai Besar TNBTS dari Probolinggo.
Kendaraan tersebut disiagakan di wilayah kerja Resort Ranupani agar dapat bergerak cepat apabila muncul titik api baru yang mengarah ke kawasan administratif Kabupaten Lumajang.
Kapolsek Senduro AKP Wahono Pudji Santoso mengatakan, meski titik kebakaran berada di kawasan TNBTS Blok Bantengan yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Probolinggo, pihaknya tetap melakukan langkah antisipasi maksimal karena lokasi tersebut berbatasan langsung dengan wilayah Lumajang.
"Personel Polsek Senduro bersama unsur TNI, TNBTS, BPBD, dan relawan terus melakukan pemantauan di lapangan. Fokus kami adalah mencegah agar api tidak merembet masuk ke wilayah Lumajang. Berbagai langkah antisipasi telah dilakukan, mulai dari pembuatan sekat bakar, pemadaman hingga koordinasi lintas instansi," ujar AKP Wahono Pudji Santoso.
Ia menjelaskan, kebakaran mulai terpantau pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 21.30 WIB dan hingga Selasa siang api masih belum sepenuhnya padam. Luas area yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 14 hektare.
Vegetasi yang terbakar didominasi semak belukar jenis krinyu, hamparan ilalang, serta pepohonan akasia dan cemara gunung yang kondisinya mengering akibat musim kemarau.
Menurut Wahono, berdasarkan hasil pemantauan sementara, belum ditemukan indikasi adanya unsur kesengajaan maupun aktivitas manusia yang menjadi penyebab kebakaran.
"Dugaan sementara kebakaran dipicu faktor alam, yakni cuaca panas yang menyebabkan vegetasi sangat kering sehingga mudah terbakar. Sampai saat ini belum ditemukan dugaan yang mengarah pada unsur kesengajaan atau aktivitas manusia," katanya.
Meski demikian, aparat kepolisian bersama pengelola TNBTS tetap melakukan pengawasan untuk memastikan tidak ada aktivitas masyarakat yang berpotensi memicu munculnya titik api baru.
Di sela-sela penanganan karhutla, petugas juga memberikan imbauan kepada warga agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan, membuang puntung rokok sembarangan, maupun menyalakan api di kawasan hutan.
Selain itu, koordinasi terus diperkuat dengan Balai Besar TNBTS, BPBD, MPA, MMP, serta komunitas pecinta alam guna mempercepat penanganan apabila kondisi berubah sewaktu-waktu.
AKP Wahono menegaskan sinergi seluruh unsur menjadi kunci dalam mencegah kebakaran meluas ke wilayah Lumajang.
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kawasan hutan. Apabila menemukan titik api atau asap di sekitar kawasan TNBTS, segera laporkan kepada petugas agar bisa ditangani lebih cepat. Pencegahan adalah langkah terbaik agar kebakaran tidak semakin meluas," pungkasnya.
Hingga Selasa sore, petugas gabungan masih bersiaga di kawasan Resort Ranupani. Mobil pemadam kebakaran tetap ditempatkan di lokasi strategis, sementara pemantauan terhadap perkembangan titik api terus dilakukan mengingat kondisi cuaca yang masih panas dan berpotensi mempercepat penyebaran api.

0 Comments