Langsung ke konten utama

Konservasi Gajah dan Konservasi Banteng Hadapi Permasalahan Yang Mirip



Jember, KaJe
Usaha untuk melaksanakan konservasi hewan yang dilindungi seperti gajah dan  banteng di Indonesia ternyata menghadapi permasalahan yang mirip. Permasalahan yang muncul diantaranya hilangnya habitat asli hewan, munculnya tindak pidana perdagangan ilegal bagian tubuh binatang seperti gading gajah atau tanduk banteng, bentrok kepentingan antara manusia dan hewan, berkurangnya populasi hewan, turunnya daya reproduksi hewan serta permasalahan non teknis seperti perijinan dan birokrasi. Fakta ini muncul dalam diskusi kala kegiatan Kuliah Umum dengan tema "Konservasi Gajah Sumatera : Kebijakan, Permasalahan, dan Tantangannya" yang menghadirkan narasumber Priyambodo, peneliti dan dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung (26/4).

Kegiatan kuliah umum digelar oleh Kelompok Riset (KeRis) Konservasi Banteng, Laboratorium Konservasi Hayati CDAST, serta Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember. Untuk diketahui KeRis Konservasi Banteng dan Laboratorium Hayati CDAST Universitas Jember juga tengah merencanakan berbagai program dalam rangka melestarikan banteng di kawasan Besuki Raya khususnya yang ada di Taman Nasional Baluran di wilayah Situbondo-Banyuwangi.

Sengaja kami undang peneliti gajah Sumatera, Mas Priyambodo, untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam pelaksanaan konservasi gajah yang sudah dilakukan. Harapannya ilmu dan pengalaman tadi bisa kita aplikasikan dalam konservasi banteng. Jika Universitas Lampung memiliki kepedulian terhadap gajah Sumatera, maka Universitas Jember ingin berkontribusi terhadap pelestarian banteng di Taman Nasional Baluran, tutur Wachju Subchan, peneliti KeRis Banteng dan Laboratorium Konservasi Hayati CDAST yang juga Wakil Rektor II Universitas Jember saat membuka kegiatan. 

Menurut Priyambodo, salah satu usaha yang dilakukan dalam konservasi gajah di Lampung adalah meneliti genetika gajah dalam rangka mengatasi berkurangnya populasi gajah. Kami meneliti genetika gajah yang ada di Taman Nasional Way Kambas, sehingga menghasilkan peta genetika gajah. Berdasarkan peta genetika ini kami dapat memilih dan menjodohkan  gajah tertentu agar menghasilkan keturunan gajah yang unggul. Selain itu kami menjalankan program translokasi gajah untuk menghindari bentrok antara penduduk dengan kawanan gajah, serta gerakan penghutanan kembali agar gajah tidak susah mencari makan, jelas Priyambodo yang juga alumnus Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jember ini.

Paparan Priyambodo ternyata cocok dengan program konservasi banteng Laboratorium Hayati CDAST Universitas Jember dan KeRis Konservasi Banteng, seperti yang disampaikan oleh salah satu penelitinya Nur Widodo yang juga dosen di Program Studi Peternakan Universitas Jember Kampus Bondowoso. Program yang digagas adalah perkawinan antara banteng jantan Baluran dengan sapi Bali betina dengan metode inseminasi buatan. Dari penelitian genetika yang ada, sapi Bali memiliki gen yang paling mirip dengan banteng. Dengan program ini maka diharapkan menghasilkan keturunan betina yang akan dikawinkan lagi dengan banteng jantan Baluran, hingga akhirnya menghasilkan keturunan yang gen-nya adalah gen banteng. Ada dua keuntungan dengan metode ini, keturunan banteng akan dilepas ke Taman Nasional Baluran, sementara keturunan sapi Bali akan menjadi sapi unggul, tutur Nur Widodo.

Selain program perkawinan banteng Baluran dengan sapi Bali betina, Laboratorium Hayati CDAST dan KeRis Konservasi Banteng memiliki program jangka panjang menghasilkan bibit unggul Sapi Universitas Jember. Bibit sapi unggul ini adalah hasil persilangan sapi jenis Belgian Blue, sapi jenis Limusin dan sapi jenis Wagyu. Untuk mewujudkan bibit sapi unggul ini kami tengah menyiapkan sarana dan prasarana fasilitas peternakan terpadu yang menyediakan pembuatan pakan, hingga pemanfaatan limbahnya. Pusat peternakan terpadu ini berpusat di Universitas Jember Kampus Bondowoso dan fasilitas pendukung di Kampus Tegalboto. Program ini adalah program lintas disiplin yang melibatkan para peneliti dari Program Studi Peternakan, FMIPA, FKIP, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian serta dari fakultas lainnya termasuk membuka kesempatan bagi mahasiswa yang ingin meneliti, imbuh Nur Widodo. (Mia/Ded/iim/hms)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pastikan Stok Oksigen untuk Layanan Medis, Kapolres Probolinggo: Kabupaten Probolinggo Aman dan Tercukupi.

Probolinggo - Polres Probolinggo intensif melakukan pengecekan ketersediaan tabung oksigen medis untuk pasien Covid-19, untuk menghindari adanya upaya penimbunan seiring informasi kelangkaan di sejumlah daerah. Setelah melakukan pengecekan di stasiun pengisian oksigen di Paiton kemarin, Kapolres Probolinggo AKBP Teuku Arsya Khadafi, didampingi Kapolsek Dringu dan Kasat Reskrim kembali melakukan pengecekan di stasiun pengisian ulang tabung oksigen. Kini yang menjadi sasaran pengecekan yaitu Stasiun Pengisian Tabung Oksigen PT Sandana Multigas perusahaan PT Samator, di Desa Kalisalam Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo, Rabu (07/7) "Kita pastikan tabung oksigen untuk layanan medis di Kabupaten Probolinggo masih kondisi aman dan tercukupi,” ucap Kapolres Probolinggo, AKBP Teuku Arsya Khadafi Pengecekan ini sebagai bentuk tugas Polri guna menghindari adanya penimbunan tabung oksigen medis bagi pasien penderita Covid-19. Bahkan dalam antisipasi kelangkaan tabung oksigen medis di Kab...

Pocong gentayang di mojokerto karna covid

Merdekanews.net Sosok pocong dan kuntilanak berkeliaran di jalur protokol yang menjadi akses menuju Kota Mojokerto. Kedua sosok hantu itu mengampanyekan agar warga dirumah saja sebagai upaya mencegah penularan COVID-19. Hantu yang biasanya ada di film film ini bukanlah sungguhan, melainkan sekelompok orang yang bertugas mengkampanyekan pemberlakuan PPKM darurat hingga 20 Juli 2021 mendatang. Keluarga pocong dan kuntilanak itu dibawa oleh Polres Mojokerto digunakan untuk menghantui warga yang masih nekat keluyuran dan masih nekat nongkrong di warung-warung di tengah PPKM darurat yang sedang berlangsung. Kelompok hantu jadi-jadian itu juga menakut-nakuti pengendara yang tetap nekat menuju Kota Mojokerto. Salah satunya di titik penyekatan simpang lima Kenanten Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Penyekatan dilakukan agar tidak terjadi kerumunan dan keramaian di pusat kota selama pemberlakuan PPKM Darurat. Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander mengatakan, langkah ini sebagai upaya untuk ...

Pengusaha Resto di Sidoarjo Bersedekah makanan untuk warga isoman

Sidoarjo.merdekanews.net Perhari, resto yang berada di Jalan Raya Komplek Perumahan Taman Pinang Indah, Sidoarjo ini menyediakan 20 porsi makan siang untuk penderita Covid-19 yang sedang menjalani isoman di rumah. “Ada teman-teman dari komunitas yang ambil kesini jadi nanti mereka yang membagikan ke warga isoman. Kita berusaha memahami mereka, isoman kan gak bisa keluar kemana mana jadi kita masakin,” jelasnya ketika ditemui merdekanews.net di restoran. Sementara itu, Wina, relawan sedekah centelan mengatakan, saat ini, banyak warga yang sedang menjalani isoman di rumah mengeluh kesulitan mencari makan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Jadi kita swadayakan temen-temen kita urunan. Alhamdulillah untuk makan siang kita di suport Asap-asap,” ucap Wina usai membagikan makan siang ke warga isoman di Desa Lebo. Untuk makan malam, Wina mengatakan, dari hasil swadaya yang didapat, ia memberdayakan janda-janda di desa tersebut untuk memasak di rumahnya masing-masing. Wina juga memberikan ko...